Catatan Harian

Perkara Campur Sari

Bulan kita cuma satu, primadona di gelapnya malam. Di Jupiter ada selusin bulan, tanpa seorang pun manusia menikmati. ~ Ibu Gamila

Ketika pulang larut, saya sering lupa menyalakan lampu motor. Sepanjang jalan protokol menuju rumah memang diterangi dengan penerangan jalan yang cukup memadai. Jadi wajar jika ada pengendara motor tidak menyalakan lampunya, entah karena lupa, atau memang sengaja melakukanya. Kesadaran bahwa lampu motor mati biasanya timbul setelah melewati terowongan Fly Over Bangetayu, di dekat stasiun Alas Tua. Lampu penerangan jalan akan semakin berkurang jumlahnya, setelah melewati jalan Kauman Raya (jalan selepas stasiun).

image

Beberapa tahun yang lalu, jalan Kauman Raya yang merupakan salah satu jalan utama menuju rumah (titik merah di capture G-maps), begitu identik dengan tindak kriminalitas. Hal tersebut terjadi karena jalan tersebut amat sepi dan minim penerangan jalannya. Tindak kejahatan curanmor biasanya terjadi selepas petang hingga tengah malam. Korbannya pengendara motor yang sedang apes. Penjahat curanmor menggunakan sejumlah trik dalam modus operasinya, antara lain; menyamar jadi polisi preman yang merazia pengendara motor yang lewat, memeriksa kelengkapan surat-surat, lalu menyita motor secara paksa. Modus operasi yang kedua menyamar jadi debt collector yang melakukan penyitaan pada motor kreditan. Modus yang terakhir langsung menggunakan kekerasan dengan cara menyerempet dan atau menendang pengendara motor hingga jatuh tersungkur, lalu merebut motornya. Jika pengendara motor melawan nyawanya akan terancam, kalaupun selamat biasanya terluka parah. Tindak kejahatan selanjutnya adalah penjambretan, yang terjadi mulai dini hari, sampai fajar menjelang. Korban penjambretan biasanya Ibu-Ibu yang berangkat ke pasar membawa barang dagangannya (biasanya berupa palawija dan semacamnya), untuk dijual di pasar Bangetayu. Penjambret tidak berminat dengan barang dagangan yang dibawa oleh Ibu-Ibu tersebut. Yang diincar adalah perhiasan emas yang dikenakan, dan uang tunai yang dibawa. Para penjambret tidak segan menggorok leher korbannya, jika melawan.
Tindak kriminalitas tersebut sekarang hampir tak pernah terjadi lagi, berkat keseriusan aparat kepolisian, dan warga masyarakat dalam menangani hal tersebut.
Sekarang, penerangan jalan dari stasiun Alas Tua, sampai ke depan rumah cukup baik. Tindak kriminalitas juga hampir tidak pernah terjadi lagi. Yang tidak berubah adalah susasana sunyi. Ketika terjadi pemadaman listrik, suasana sepi makin mencekam. Satu satunya pemecah kesunyian mungkin cuma kereta malam yang singgah atau lewat Stasiun Alas Tua. Akan tetapi, hal tersebut akan berubah ketika padang bulan. Kabarnya, cahaya bulan memudahkan orang untuk membuat satu atau mungkin seribu ingatan manis, mengenai seseorang. Misal; lengkung bulan sabit malam ini, amat mirip dengan lengkung bibir seseorang yang membentuk senyum manis. Bener juga guyonan yang dituturkan Om Anim; “Tuhan itu Maha Bercanda; buktinya mahluk manis ciptaan-Nya yang ada nun jauh disana, bayang wajahnya bisa terproyeksi dipikiranmu.”

*Mikirin kamu terpaksa jadi pilihan, karena cuma itu yang bisa kulakukan dan kunikmati, selain membaca doa tidur, dan memilih mimpi yang ingin kuimpikan malam ini.

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s