renungan

Hobi bernafas

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (QS: Ar-Rahman)

Tahun 1997, disuatu siang saya diminta Bapak untuk bolos sekolah madrasah diniyah, agar bisa menemani eyang buyut yang sedang kritis. Saya tetap berangkat, dan eyang buyut wafat sore itu.

Tahun 2000, Dek Aris lahir disituasi dimana usaha yang dirintis Bapak setelah keluar dari pekerjaannya, tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Tahun 2003, kios Ibu di Pasar Pedurungan ludes dilahap si jago merah.

Tahun 2004, pergelangan tangan kiri dislokasi gegara main bola. Diperban selama tiga bulan.

Pertengahan tahun 2004, sewaktu masa orientasi siswa baru, dipaksa menulis surat cinta untuk salah satu kakak kelas panitia ospek. Sialnya, surat tersebut dibaca oleh kakak kelas yang dijadikan objek surat tersebut.

Tahun 2005, tangan kananku dislokasi waktu berkelahi kecil-kecilan. Selama tiga bulan tidak bisa menulis, gegara tangan diperban. Sempat mencoba nulis dengan tangan kiri, hasilnya memprihatinkan.

Tahun 2007, Bapak ditipu rekannya, untuk kesekian kali. Disemester kedua, tepatnya bulan Agustus, tanggal 17, Ibu keguguran.

Awal tahun 2008, saya diopname. Lalu berobat jalan selama enam bulan.

Tahun 2009, eyang kakung wafat. Sedih, tapi cukup beruntung, karena sempat membantu beliau buang air besar ditempat tidur.

Tahun 2010, nemu facebook kakak kelas yang kujadikan objek satu-satunya surat cinta yang pernah kutulis sampai saat ini. Tak add as a friend, sehari kemudian di approve as a friend. Ia sudah menikah, punya seorang putri,berdomisili di Cilacap. Tahun itu sempat mengucapkan selamat ulang tahun, dan sejumlah do’a untuk kelanggengan dan kebahagiaan rumah tangganya.

Tahun 2012, eyang kakung dari pihak Bapak, wafat di tanah suci.

Tahun 2013, dua saudara sepupu keguguran.

Tahun 2014, bulan Januari, adik eyang putri wafat dihari ulang tahunku. Bulan maret, tanggal 7 jum’at kliwon, helmku kembali hilang untuk kali kedua. Kurang beruntung di hari lahir, dan hari dimana wetonku jatuh itu ya harus diterima. Yang terpenting, saya masih hobi bernafas, dan masih bisa mengulang apa yang pernah dikatakan surayah;
“Ini benar-benar terjadi, kita masih bertahan hidup sampai sekarang, lolos dari aneka macam persoalan yang kita hadapi dari semenjak kita lahir”

Fabiayyi ala’i Rabbikuma tukadzdzi ba”
(Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)

“La bisyayin min alaika Rabbi akzibu”
(Tidak ada satupun nikmat-Mu, duhai Tuhanku, yang aku dustakan)

Maret, 2014.

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s