Uncategorized

Taiko dan Musashi

Apa kamu orang yang mencintai tidur?

Mungkin.

Terus kenapa belakangan ini sering telat tidur?

Gegara kerjaan.

Yakin?

Kok diam?

Bener juga ya, yang dikatakan orang-orang; “kalau diam itu waktu rehat bagi malaikat pencatat amal.”

Bisa jadi.

Jadi masih tetap yakin, kalau tidur larut belakangan ini cuma karena kerjaan?

*geleng-geleng sama diri sendiri.

Malam makin melarut lho…

*ngeliat jam

Udah tahu, malam ini mau ngimpi apa?

Belum.

Besok mau bangun jam berapa?

Mudah-mudahan suara TOA masjid besok, bisa membangunkanku.

Kenapa nggak pake alarm?

Nggak biasa.

Lagi kangen ya?

Iya, kangen sama buku akt dari Kieso, yang dulu sering kupinjam dari perpus kampus.

Emang isi bukunya apa?

Isinya tentang akt keuangan. Kalau mbaca yang english edition sering nggak mudeng. Mbaca edisi indonesia juga nggak mudeng.

Kok dikangenin?

Kalau nggak mudeng kan jadi pusing. Terus ngerasa males. Nah, abis itu biasanya ada bisikan untuk nutup buku, lalu bukunya dijadiin bantal.

Oh…. *geleng-geleng

Hehe… Buku Kieso ada 3 jilid atau berapa gitu. Harga per-jilid kalau nggak salah 150 ribuan. Tebal buku mirip Musashi-nya Eiji Yoshikawa.

Suka Eiji Yoshikawa juga?

Dulu sempet mbaca dua ebook bajakannya Eiji Yoshikawa; Taiko, dan Musashi. Apa itu bisa disebut suka?

Entahlah.

Banyak sekali yang bisa dipelajari dua buku Eiji Yoshikawa tersebut. Bukunya kutip-able banget;

Taiko

Bagaimana jika seekor burung tak mau berkicau?

Nobunaga menjawab; “Bunuh saja!”
Hideyoshi menjawab; “Buat burung itu ingin berkicau.”
Ieyasu menjawab; “Tunggu.”  

Musashi

“Kita manusia ini semua melihat satu bulan saja, tetapi banyak jalan yang dapat kita tempuh untuk sampai ke puncak yang terdekat dengannya. Kadang-kadang kalau kita tersesat, kita memutuskan untuk mencoba jalan orang lain, tapi tujuan akhirnya menemukan penyempurnaan hidup.”

Tengah malam, 2014

Standar
Random

Plester Gajah

Ketika ditanya kenapa suka menyimak hujan, saya cuma bisa tersenyum.

Ketika ditanya; “kenapa tersenyum?”

Saya jawab; “nggak tahu.”

Kenapa nggak tahu?

*diam menyimak gerimis yang membentuk dirinya jadi arsiran-arsiran kecil*

Hey..

*menyesap sisa-sisa petrichor*

*Lalu saya bercerita tentang plester bergambar gajah yang membalut jari kelingking kananku.*

image

“Nanti, kalau lukanya sudah sembuh, kabarnya jari kelingkingku bisa sekuat belalai gajah.”

*si penanya beranjak pergi*

*saya tetap duduk manis dan membiarkan pikiran dipenuhi seabrek kata seandainya*

Rencananya, kalau kaca jendela sudah cukup berembun, saya akan merindukan seseorang.

Maret, 2014.

Standar
Catatan Harian

Kaleng Oli

Oh… Rasanya kehilangan handphone itu seperti ini ya?
Baiklah, berhubung ini pengalaman pertama, mau tak mau, saya harus sedikit murung, dan bersiap menarik sejumlah uang yang ada ditabungan, untuk membeli ponsel.

Tabungan. Kalau diingat-ingat, kaleng oli bergambar dua kuda laut yang mengapit panji bintang lima adalah “bank pertama”, yang menampung uang recehku selama beberapa tahun. Uang receh yang kusimpan dalam celengan kaleng tersebut antara lain; pecahan koin Rp. 50 bergambar burung merak dan komodo. Pecahan koin Rp. 100 bergambar karapan sapi, gunungan wayang dan rumah gadang. Pecahan koin Rp. 500 bergambar bunga melati. Pecahan koin Rp. 1000 bergambar kelapa sawit. Oia hampir lupa, kecuali pecahan Rp. 100 yang bergambar gunungan dan rumah gadang, semua uang koin yang kusebut, memiliki gambar burung garuda di salah satu sisinya.
Sebenarnya, saya sempat dibelikan celengan ayam berbahan tanah liat, tetapi pecah gegara tak buat mainan. Jadi, ketika teman-temanku menabung dicelengan ayam, babi, gajah, dan macan setinggi setengah meter, saya mesti menabung dicelengan kaleng merah bermerek “mesran”. Mungkin itu sebuah pesan, jika di masa depan saya punya uang yang jumlahnya mencukupi, uang tersebut harus saya investasikan di PT. Pertamina, atau perusahaan minyak lain semacam Petronas.

Setelah bosan dengan celengan kaleng, buku tulis adalah bank tempat kumenabung, sampai lulus kuliah. Sebenarnya, pas kuliah sudah punya rekening bank, tapi cuma kupakai untuk membayar uang semesteran.

Murung itu sungguh indah…” tutur Band Efek Rumah Kaca.
Lain lagi dengan surayah yang bertutur; “Jangan sedih. Kalau sedih nanti rugi, karena kita dilahirkan oleh sebab orang tua yang bersenang-senang”.

Untungnya, cuma hape yang hilang, jadi bisa beli lagi. Coba kalau yang hilang itu nyawa, cuma bisa disholati kan?”

Maret, 2014

Standar
Uncategorized

Bangku Kampus

Kuliah, duduk-duduk di bangku taman, dilanjutkan ngopi di jalan pahlawan, lalu bubar jalan.

Ke perpustakaan, niatnya pinjam buku. Tapi malah baca koran, atau buku-buku nggak jelas, gegara buku yang ingin dipinjam, sudah ludes dipinjam orang.
Sesekali dalam seminggu, ikut kuliah non formal (non sks) anak rohis, yang biasanya mengkaji tentang penerapan ekonomi Islam. Nggak mudeng, tapi sayang kalau dilewatkan. Kalau diingat-ingat, agak memalukan. Yang lain (baik akhwat maupun ikhwan) berbaju gamis, rapi, dan klimis-klimis. Saya cuma pakai jins, dan kaos. Rambut cukup gondrong, dan acak-acakan. Yang membuat saya bertanya-tanya sampai sekarang adalah; kenapa saya nggak diusir?

image

Kuliah tapi mbolos, lalu ke tempat wisata terdekat yang telah di votingkan. Sampai ditujuan cuma bercengkrama dan menikmati apa yang ada disitu, ngambil foto, lalu pulang dengan kantong kosong.

Kuliah, ngerjain tugas kelompok di kost atau rumah seorang teman sampai larut malam. Pas pulang kadang bingung nyari jalan gegara di portal semua.
Diajak jadi panitia seminar, ngambil tugas yang nggak penting semacam nempel pamflet, ngemil snack seminar, mbantu masang backdrop, menata kursi, sesekali nganter undangan ke nara sumber.

Di bulan puasa, ada teman yang sering ngajak ke masjid kampus. Kalau siang hari biasanya dia butuh teman tidur. Kalau menjelang maghrib, dia jelas butuh teman nyari ta’jil. Kalau ngajaknya pas waktu sholat ashar, biasanya selepas sholat diceramahi. Sesekali juga ikut mbantu-mbantu acara buka bersama di panti asuhan.

Diajak demo anak merah, putih, hijau dan MLM, saya ndak berangkat. Diajak naik gunung juga ndak berangkat. Diajak jualan baju bekas, aqua, bakpao, dan piscok, sempat berangkat.

Kalau nggak ada yang ngajak ngapa-ngapain, saya cuma kuliah, lalu ngumpet di bawah rak buku perpus paling pojok sambil mbawa koran atau buku biar kesannya mbaca sesuatu. Sesekali ngumpet di warnet kampus kalau nggak bawa laptop. Kalau bosen, pulang, lalu main sama Dek Aris.

Demikian.

Standar
Catatan Harian

Kaleng biskuit & mata bening

Ada yang bilang, hidup itu seperti kaleng biskuit. Didalamnya terdapat aneka macam biskuit. Rasanya bervariasi; ada yang kurang enak, enak  dan amat enak. Ada yang kurang manis, manis dan amat manis seperti kamu.

Titik-titik embun hasil tempias hujan pagi tadi, sudah menguap dari kaca jendela. Menyisakan coretan transparan yang tak terlihat, jika tak diamati dengan seksama.
Kadang muncul sebuah pertanyaan; kenapa sih kejernihan embun amat mirip dengan mata beningmu?
Jika disentuh dengan ujung jari, sensasi kesejukannya juga amat mirip dengan mencermati senyum manis yang tersaji dipotretmu?

Standar
renungan

Hobi bernafas

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (QS: Ar-Rahman)

Tahun 1997, disuatu siang saya diminta Bapak untuk bolos sekolah madrasah diniyah, agar bisa menemani eyang buyut yang sedang kritis. Saya tetap berangkat, dan eyang buyut wafat sore itu.

Tahun 2000, Dek Aris lahir disituasi dimana usaha yang dirintis Bapak setelah keluar dari pekerjaannya, tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Tahun 2003, kios Ibu di Pasar Pedurungan ludes dilahap si jago merah.

Tahun 2004, pergelangan tangan kiri dislokasi gegara main bola. Diperban selama tiga bulan.

Pertengahan tahun 2004, sewaktu masa orientasi siswa baru, dipaksa menulis surat cinta untuk salah satu kakak kelas panitia ospek. Sialnya, surat tersebut dibaca oleh kakak kelas yang dijadikan objek surat tersebut.

Tahun 2005, tangan kananku dislokasi waktu berkelahi kecil-kecilan. Selama tiga bulan tidak bisa menulis, gegara tangan diperban. Sempat mencoba nulis dengan tangan kiri, hasilnya memprihatinkan.

Tahun 2007, Bapak ditipu rekannya, untuk kesekian kali. Disemester kedua, tepatnya bulan Agustus, tanggal 17, Ibu keguguran.

Awal tahun 2008, saya diopname. Lalu berobat jalan selama enam bulan.

Tahun 2009, eyang kakung wafat. Sedih, tapi cukup beruntung, karena sempat membantu beliau buang air besar ditempat tidur.

Tahun 2010, nemu facebook kakak kelas yang kujadikan objek satu-satunya surat cinta yang pernah kutulis sampai saat ini. Tak add as a friend, sehari kemudian di approve as a friend. Ia sudah menikah, punya seorang putri,berdomisili di Cilacap. Tahun itu sempat mengucapkan selamat ulang tahun, dan sejumlah do’a untuk kelanggengan dan kebahagiaan rumah tangganya.

Tahun 2012, eyang kakung dari pihak Bapak, wafat di tanah suci.

Tahun 2013, dua saudara sepupu keguguran.

Tahun 2014, bulan Januari, adik eyang putri wafat dihari ulang tahunku. Bulan maret, tanggal 7 jum’at kliwon, helmku kembali hilang untuk kali kedua. Kurang beruntung di hari lahir, dan hari dimana wetonku jatuh itu ya harus diterima. Yang terpenting, saya masih hobi bernafas, dan masih bisa mengulang apa yang pernah dikatakan surayah;
“Ini benar-benar terjadi, kita masih bertahan hidup sampai sekarang, lolos dari aneka macam persoalan yang kita hadapi dari semenjak kita lahir”

Fabiayyi ala’i Rabbikuma tukadzdzi ba”
(Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)

“La bisyayin min alaika Rabbi akzibu”
(Tidak ada satupun nikmat-Mu, duhai Tuhanku, yang aku dustakan)

Maret, 2014.

Standar