Catatan Harian

Lanturan Penyimak Hujan

Ada situasi dimana kita ingin menulis sesuatu, tapi tidak tahu bagaimana cara menuliskannya. Hal tersebut memang amat menjengkelkan, dan akan lebih menjengkelkan lagi kalau kita tidak berbuat sesuatu, untuk mengubah situasi tersebut. Hal sederhana yang sering kulakukan sih menulis huruf pertama kata yang ingin kutulis, selanjutnya huruf kedua, ketiga, dan seterusnya, sampai terbentuk sebuah diksi yang mengandung makna. Ketika kata pertama sudah tertulis, kata selanjutnya biasanya mengalir begitu saja secara liar.
Hal yang sama juga kulakukan ketika seseorang atau sesuatu, mendominasi isi kepala, dan hati yang kabarnya ada dirongga dada. Ia ada disitu begitu saja, saya cuma bisa “nrimo” (menikmati), karena faktanya, Ia tak bisa diusir dengan ayat kursi, atau semacamnya. Biasanya, saya cuma menuliskan inisialnya, lalu menyibukkan diri memikirkan hal lain (meski sering gagal), misal; pagi ini Ibu Presiden masak apa ya?
Di luar kaca jendela, ada hujan yang cukup deras, tempiasnya lebih dari cukup untuk membuat kaca jendela jadi berembun. Kabarnya, inilah waktu yang afdhol untuk menuliskan inisial seseorang, yang saat ini sedang dirindui, di kaca jendela yang berembun.

Januari, 2014.

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s