renungan

Pintu Do’a

Bila satu pintu tertutup, carilah pintu lain yang terbuka.
Bila seluruh pintu tertutup, carilah jendela yang terbuka.
Bila seluruh pintu dan jendela tertutup, carilah atap yang terbuka.
Bila seluruh pintu, jendela dan atap tertutup, kembalilah mencari pintu yang akan selalu terbuka, yaitu pintu do’a.

Prof. Eko Budihardjo,
Januari 2014.

Standar
Catatan Harian

Lanturan Penyimak Hujan

Ada situasi dimana kita ingin menulis sesuatu, tapi tidak tahu bagaimana cara menuliskannya. Hal tersebut memang amat menjengkelkan, dan akan lebih menjengkelkan lagi kalau kita tidak berbuat sesuatu, untuk mengubah situasi tersebut. Hal sederhana yang sering kulakukan sih menulis huruf pertama kata yang ingin kutulis, selanjutnya huruf kedua, ketiga, dan seterusnya, sampai terbentuk sebuah diksi yang mengandung makna. Ketika kata pertama sudah tertulis, kata selanjutnya biasanya mengalir begitu saja secara liar.
Hal yang sama juga kulakukan ketika seseorang atau sesuatu, mendominasi isi kepala, dan hati yang kabarnya ada dirongga dada. Ia ada disitu begitu saja, saya cuma bisa “nrimo” (menikmati), karena faktanya, Ia tak bisa diusir dengan ayat kursi, atau semacamnya. Biasanya, saya cuma menuliskan inisialnya, lalu menyibukkan diri memikirkan hal lain (meski sering gagal), misal; pagi ini Ibu Presiden masak apa ya?
Di luar kaca jendela, ada hujan yang cukup deras, tempiasnya lebih dari cukup untuk membuat kaca jendela jadi berembun. Kabarnya, inilah waktu yang afdhol untuk menuliskan inisial seseorang, yang saat ini sedang dirindui, di kaca jendela yang berembun.

Januari, 2014.

Standar