Catatan Harian

Kilasan pagi dirumahku…

  1. Duduk manis ditemani segelas teh, dan suara kereta pagi yang singgah di Stasiun Alas Tua. Menengadah ke langit, ada bulan setengah lingkaran beserta sejumlah konstelasi bintang, yang agaknya akan telat memohon diri. Mudah-mudahan mereka tidak lupa menampakkan diri ditempatmu. Jadi kita bisa melihat bulan dan konstelasi bintang yang sama, ketika kamu terbangun di pagi buta nanti. Tentunya dengan rentan waktu yang berbeda. Demikianlah suasana pagi dirumah. Oia, kokok ayam dan siaran radio el shinta yang didengarkan Bapak sambil yasinan, hampir lupa kusebutkan. Jujur saja, suara dari alat-alat dapur lebih enak didengar, ketimbang perbincangan di radio yang isinya dominan dengan kritik sosial yang agak kebablasan. Saya lebih suka mencuri dengar siaran BBC London yang dulu sering Bapak dengar. Isinya lebih berimbang dan informatif. Mereka juga rajin memutar lagu-lagu britpop yang sedang “in” dan info tentang BVB Dortmund tentunya. Iya, kecuali streaming di internet, siaran mereka sekarang sulit untuk ditemui. Kabarnya sih, gara-gara adanya pemangkasan anggaran dari pemerintah setempat, sehingga siaran global mereka berkurang durasinya.
  2. Menyeruput teh yang mulai dingin, lalu agak heran dengan rasanya yang terlalu manis. Padahal, tadi cuma dikasih gula dua sendok teh yang segaris dengan cekungannya. Mungkin gara-gara potretmu. Haha… Iya, itu cuma imajinasiku, tapi soal kamu yang terlihat manis di ava socmedmu, itu konkret.
  3. Corat-coretan ini memang tidak bisa menyembuhkan radang tenggorokanku yang sedang kambuh. Tapi cukup efektif untuk membuat saya lupa dengan rasa sakitnya. Hehe… Ini juga cuma imajinasiku, tapi sakit randang tenggorokanya asli.
  4. Saya ingin menulis keindahan pagi yang ada diluar kaca jendela; titik-titik embun di daun-daun, rona jingga di ufuk timur, dan kicau burung yang mudah-mudahan isinya bukan isu politik. Tapi saya agak kesulitan mendeskripsikannya, karena faktanya, ini cuma pagi hari yang biasa, bagi sebagian orang.
  5. Perut sudah mulai keroncongan. Di kamar sebelah, Dek Aris sedang terbahak-bahak karena dikelitiki Dek Chikma, supaya bangun dan segera beranjak dari kasur. Iya, inilah saat yang tepat untuk beranjak dari sini, lalu ke dapur menemui wanita yang lebih cantik dari kamu, untuk tahu beliau masak apa? 
Standar
Random

Catatan rabu siang

  1. Banyak bicara itu amat meletihkan.
  2. Yang masih ada diluar genggaman itu seringkali tampak lebih wah.
  3. Apapun itu, selalu butuh persiapan. Bahkan, spontanitas merupakan salah satu wujud respon nyata, dari kesiapan pikirkan bawah sadar kita, dalam merespon stimulus yang diberikan.
  4. Nyorat-nyoret itu melegakan dan menyuburkan benih-benih tanya dikepala.
  5. Tersenyum itu rame rasanya. Lebih sering manis asam asin kalau sambil mengemut permen. Manis kronis kalau sambil mencermati potretmu.
  6. Yang terakhir cukup malaikat rokib-atib, dan Allah aja yang tahu.
Standar
Catatan Harian

Lelaki kaya guna

Rasa-rasanya, kedewasaan dan kemapanan adalah parameter yang kerap digunakan para perempuan, dalam menentukan lelaki yang akan dijadikan pendamping hidupnya. Kabarnya, mereka sering menilai kedewasaan seorang pria dari;

  • Kemampuannya dalam bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan, atas apa yang dia pikirkan untuk saat ini, dan masa yang akan datang.
  • Caranya menghargai setiap usaha yang telah dilakukan dirinya dan orang lain.
  • Kebijaksanaanya dalam menentukan apa yang perlu diprioritaskan dalam hidup.

Selanjutnya, kemapanan lelaki adalah kriteria yang paling penting bagi sejumlah perempuan. Pria mapan (yang berarti; punya rumah, mobil, gadget terkini, uang banyak, posisi bagus di sebuah perusahaan atau malah punya perusahaan sendiri) adalah jawaban spontan, jika ditanya tentang pendamping hidup idamannya. Bahkan dalam sejumlah kasus, ukuran seperti orangnya pecinta keluarga atau tidak, mau menerima dirinya secara apa adanya atau tidak, ditempatkan jauh di deretan kesekian.

Jadi ya wajar, kalau jaman sekarang banyak lelaki bujang yang belum berani nikah, kalau belum punya rumah sendiri, mobil sendiri, usaha sendiri atau posisi bagus di tempat kerja. Padahal semua itu kan sifatnya cuma sementara, dan bisa diambil kembali sewaktu-waktu oleh Yang Maha Kuasa.

*Untuk lelaki semacam saya sih, sementara ini cuma bisa berusaha jadi pribadi kaya guna dengan cara sederhana, yang mensyukuri hidup dengan cara menikmatinya.

Standar