renungan

milik-Nya

Pak Goen pernah bertutur; “Pagi bukan milik, ia cukup hadir dan ada. Mungkin sebab itu kita bisa sebentar bahagia.”

Apa yang ada dihidupku bukan milikku, ia cukup hadir dan ada, untuk disyukuri.

Apa yang pernah, sedang, dan akan kuusahakan juga bukan milikku, ia cukup hadir dan ada, untuk membuat saya bahagia dengan mensyukurinya.

Semua milik-Nya, saya cuma diberi amanah. Selanjutnya terserah saya, dan Ia selalu mengiyakan jika saya menaatinya.

Standar
Catatan Harian

melangkah

Untungnya, kita belum sempat menerima satu sama lain. Karena faktanya, yang terbaik adalah kita tetap berjalan sendiri-sendiri. Sekarang, kamu sedang menempuh jalan yang kaupilih, dan aku sendiri juga sedang menempuh jalan yang kupilih, melupakan sejumlah ketidakpastian di masa lalu.
Langkahku kini terasa ringan, mudah-mudahan langkahmu juga seperti demikian.

Standar
Random

Berkecamuk dalam diam

Saya sering merasa baik-baik saja, ketika lebih fokus pada diri sendiri. Agak klise, tapi memang seperti demikian; Bercerminlah, lalu acungkan jari telunjuk tepat dibatang hidung seseorang yang ada didalam cermin. Tuturkan dalam hati, aneka macam dosa yang diperbuat oleh sosok tersebut satu persatu. Setelah puas menuturkan sejumlah dosa yang ia perbuat, diamlah sejenak. Sepersekian detik setelah terdiam, telingamu akan mendengar sejumlah bisikan yang berisi sejumlah solusi. Pilih yang paling praktis lalu aplikasikan.

Standar
Random

asal-asalan

Tulislah dengan asal-asalan, lalu baca kembali setelah beberapa waktu. Senyummu akan mengembang di sela-sela spasi, dan kamu akan mulai menulis kembali sejumlah hal yang belum tertulis. Oia, jauhkan smartphone dan laptopmu. Ambil pulpen dan kertas untuk menulis. Kamu masih ingat kan, kalau sebatang pulpen lebih dekat dengan pikiran dan hatimu, ketimbang keyboad QWERTY smartphone dan laptopmu? Kamu juga tidak lupa kan, kalau selembar kertas adalah cermin terjujur, jika kau tuangkan kejujuran disitu. Tuliskan saja, karena menulis secara asal-asalan adalah salah satu cara terbaik untuk mengosongkan isi pikiran, dan mengisi kekosongan didalam hati.

Standar
renungan

Kaum Beragama Negeri Ini

Oleh: Gus Mus

Tuhan, lihatlah betapa kaum beragama negeri ini
mereka tak mau kalah dengan kaum beragama lain
di negeri-negeri lain, demi mendapatkan ridha Mu
mereka rela mengorbankan saudara-saudara mereka
untuk berebut tempat terdekat di sisi Mu
mereka bahkan tega menyodok dan menikam
hamba-hamba Mu sendiri
demi memperoleh rahmat Mu
mereka memaafkan kesalahan
dan mendiamkan kemungkaran
bahkan mendukung kelaliman
untuk membuktikan keluhuran budi mereka
terhadap setanpun mereka tak pernah berburuk sangka

Tuhan, lihatlah betapa baik kaum beragama negeri ini
mereka terus membuatkan Mu rumah-rumah mewah
di antara gedung-gedung kota
hingga tengah-tengah sawah
dengan kubah-kubah megah dan menara-menara menjulang
untuk meneriakkan nama Mu
menambah segan dan keder hamba-hamba kecil Mu
yang ingin sowan kepada Mu
nama Mu mereka nyanyikan dalam acara hiburan
hingga pesta agung kenegaraan
mereka merasa begitu dekat dengan Mu
hingga masing-masing merasa berhak mewakili Mu
yang memiliki kelebihan harta membuktikan
kedekatannya dengan harta yang Engkau berikan
yang memiliki kelebihan kekuasaan membuktikan
kedekatannya dengan kekuasaan yang Engkau limpahkan
yang memiliki kelebihan ilmu membuktikan
kedekatannya dengan ilmu yang Engkau karuniakan
mereka yang Engkau anugerahi kekuatan
seringkali bahkan merasa diri Engkau sendiri
mereka bukan saja ikut menentukan ibadah
tapi juga menetapkan siapa ke sorga siapa ke neraka
mereka sakralkan pendapat mereka
dan mereka akbarkan semua yang mereka lakukan
hingga takbir dan ikrar mereka
yang kosong bagai perut bedug

Allahu Akbar Walillahil Hamd

Standar
renungan

Menelanjangi diri

Tadi siang bertemu teman lama di acara walimatul ‘urus-nya Mas Irul, teman baikku. Banyak cerita yang ia kisahkan, aneka macam pertanyaan ia sampaikan. Dari sejumlah cerita dan pertanyaan, terselip sebuah pertanyaan beserta jawaban pilihan ganda yang harus kupilih untuk melanjangi diri. Dengan santai ia bertutur:
Eh, kalo ada pot jatuh dari balkon rumahmu, kira-kira gimana kondisi pot bunganya?
a) Tanaman jatuh dan tetap utuh
b) Pot rusak tapi tanaman tidak rusak
c) Pot dan tanaman rusak tanpa bisa diperbaiki
d) Karena alasan tertentu, pot dan tanaman tidak terlihat

aaa
Secara spontan, jawaban B kupilih. Lalu ia menuturkan makna dibalik analogi pot rusak, tapi tanaman tidak rusak : “Kamu kelihatan senang dan tidak dapat diganggu orang lain. Kenyataannya kamu ga begitu suka menunjukkan emosi. Perasaan yang tertutup semakin besar. Ingat, ga ada pot yang bisa menampung perasaan itu selamanya.”
*Dan saya cuma bisa tersenyum, lalu menenggak segelas teh yang tersaji dimeja kami.

Standar